Polemik Branding dan Popularitas Penulis

0 Comments

Kalau memang buku keren, tanpa banyak promosi pun ya, tetap keren. Apalagi kalau ditambah promosi, pasti bakal lebih keren. Tetapi kalau memang buku jelek, ya mau promosi segencar apa pun pasti hasilnya juga segitu-gitu saja. Itu sudah syukur alhamdulillah buku sudah terbit dan laku. Sudah disebut penulis. Hanya saja, mampukah buku beserta penulisnya bersaing di dunia kepenulisan yang semakin ganas?

Sebab sekarang ramai komunitas penulis didirikan, muncul banyak penulis baru, dan semakin kejar-kejaran dalam hal popularitas. Penulis baru berusaha keras untuk membuat branding ini dan itu. Penulis berjuang mati-matian 24 jam agar bisa dilihat sebagai penulis yang begini dan begitu. Habis energi, tenaga, pikiran, uang, dan waktu. Padahal kalau mau jujur, besar dan kecilnya nama seorang penulis tetap akan dikembalikan pada karyanya. Maka karyalah yang seharusnya menjadi pusat perhatiannya. Bukan sibuk koar-koarnya.

Yuk, fokus ke karya. Nama-nama beken yang kemudian mendapatkan brandingnya secara alami—catat alami ya bukan imitasi apalagi karbitan—ia mereka yang memiliki dedikasi tinggi terhadap keilmuan. Fokusnya justru pada pengabdian diri pada karya, bukan pada polularitas. Sebab, popularitas tanpa kualitas itu sama saja membunuh diri sendiri. Maka yang perlu digarisbawahi: pengakuan datangnya secara alami. Lalu bagaimana caranya?

Setidaknya saya coba merumuskannya ke dalam tiga kategori ini. Bisa saja temen-temen membuat kategori lain, atau malah menambahkan. Cara ini saya gunakan untuk belajar, sekaligus untuk mengoreksi diri sendiri. Sebab untuk disebut penulis, tetap saja yang dibahas karyanya. Inilah tiga kategori yang bisa digunakan untuk branding penulis secara alami:

Pertama, popularitas karena karya memang berkualitas. Mungkin ada sebagian temen-temen yang tidak mengenal Phillip K. Hitti. Tetapi kalau mau searching di Google, pasti akan kaget dengan kualitas karyanya. Salah satu yang sering dijadikan rujukan ya History of The Arabs. Tebal versi Indonesianya lebih dari 1.000 halaman. Sudah bertahun-tahun digunakan sebagai rujukan induk dan paling otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam.

Karen Armstrong misalnya. Penulis yang lahir pada 14 November tahun 1944 ini pun dikenal luar tersebab karyanya yang berkualitas. Risetnya mendalam, tetapi begitu dibaca langsung dapat dipahami dengan mudah. Karyanya diterima lintas negara, dan jelas telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Karya terkini yang sempat bikin geger, yakni Sejarah Tuhan dan Masa Depan Tuhan. Kalau novel, pasti kita sudah akrab betul nama Dan Brown. Karyanya telah dicetak serta dialih-bahasakan ke dalam 40 negara di dunia. Ia pun menjadi terkenal dan namanya mendunia lantaran bukunya yang berjudul The Da Vinci Code.

Kedua, popularitas karena kreativitas. Beberapa penulis internasional benar-benar mengandalkan teknik ini. Bahwa kreativitas menjadi kunci dari kualitas karyanya. Sehingga dengan sendirinya sebuah branding tercipta, bahkan sangat melekat sekali dengan namanya. Ia identik dengan konsep apa yang ditemukannya. Sehingga pembaca akan cepat menyebut namanya begitu disebutkan gagasan yang dibuat dalam karyanya.

Seperti, siapa yang kita pikirkan ketika mendengar kata mind mapping? Pasti jawabannya Tony Buzan. Ia adalah penulis kelas dunia. Karyanya mencampai 82 buku seputar otak dan pembelajaran. Bukunya tercatat telah diterjemahkan ke 100 negara, atau sekitar 30 bahasa. Ada juga nama Bobbi DePorter yang awalnya seorang ibu rumah tangga, kemudian berhasil membuat konsep pembelajaran yang menarik. Bukunya yang sangat terkenal, berjudul Quantum Learning. Ia tulis bersama Mike Hermacky setelah belajar dari Dr. Georgi Lozanov (dikenal sebagai bapak konsep belajar cepat/accelerated learning).

Ketiga, popularitas karena produktivitas. Kategori yang ketiga ini bisa jadi juga karena dukungan karya yang berkualitas, sekaligus kreativitasnya yang tinggi. Sehingga dengan sendirinya ia menjadi produktif. Ini juga yang bisa menjadi kunci utama bagi branding penulis. Mental dan daya saingnya bakal diuji. Komitmennya juga akan terbukti pada level ini. Sebab, tak jarang ada penulis nasional yang namanya meroket dalam waktu satu atau dua tahun, tetapi di tahun ketiga langsung tenggelam hanya karena sudah tidak punya karya baru lagi.

Ketekunan dalam berkreatif akan menghasilkan karya yang berkualitas. Bila dilakukan terus menerus, pastilah akan lebih produktif. Ukurannya tidak sebatas 1-5 karya lagi, lebih dari itu, bisa sampai puluhan hingga ratusan karya. Inilah yang kemudian menjadi rumus branding yang paling aman. Jangan sampai jadi penulis karbitan, baru satu atau dua karya sudah terburu-buru branding diri. Ya, tidak masalah, itu hak masing-masing. Pada akhirnya tetaplah waktu dan masyarakat (pembaca) yang akan menentukan. Sebab, sebuah gelar pun adalah sebuah pemberian, bukan pesanan apalagi pemaksaan, kan?

Penulis dan karyanya yang disebutkan tadi hanya sebagian saja. Tentu masih banyak lagi penulis dan bukunya yang mendunia. Meski begitu banyak, ada ciri khas yang sama. Ada hal yang menarik kalau mau kita cermati, mereka yang karyanya mendunia memang menguasai bidangnya. Mereka fokus pada satu bidang keahlian, serta mengembangkan diri bersama keilmuan yang digelutinya. Sedang karya adalah hasilnya. Sehingga karya berkembang sesuai dengan pengembangan dirinya. Jadi, tak heran jika setiap karya terbit, selalu lebih maju dari karya-karya sebelumnya—baik dari sisi riset, pemikiran, konsep, gagasan, maupun hasil tulisannya. Apakah kita siap menjadi bagian dari mereka?

Oleh: Dwi Suwiknyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts