rahasia produktif menulis

Rahasia Produktif Menulis

0 Comments

Suka. Saya menulis, karena suka. Jadi, ketagihan menulis begitu buku pertama terbit. Selanjutnya, sehari tanpa menulis rasanya gimana gitu. Mulailah rajin menulis. Termasuk tulisan terbit di buletin Jumat selama 32 minggu secara berturut-turut. Tulisan bisa dibaca orang lain rasanya sungguh luar biasa. Tak ada yang sia-sia, tahun 2009 kumpulan tulisan di buletin Jumat itu terbit. Lahirlah buku saya berjudul Tarbiyah Finansial (Diva Press).

Suka. Begitu rajin menulis, dari sekadar hobi jadilah profesi. Tersebab bertemunya saya—tanpa sengaja—dengan buku karya Erskine Caldwell. Judul bukunya membuat saya semakin mantap menekuni dunia tulis-menulis: Menulis adalah Jalan Hidupku. Saya beli pada tanggal 9 September 2006. Harga diskon di pameran buku cuma Rp10.000 saja! Judul aslinya: Call It Experience, The Years of Learning How to Write. Edisi Indonesia diterbitkan oleh Bustan Yogyakarta.

Itu buku kisah nyata, perjalanan Caldwell mulai awal karier sebagai penulis cerpen/fiksi, hingga sukses sebagai penulis novel ternama. Novel-novelnya pun akhirnya difilmkan pada kurun waktu tahun 1929-1951. Dari menulislah ia hidup. Ia membeli segalanya dari royalti tulisannya. Tapi awalnya, ia tak punya rumah. Kontrak kamar, makan sekadar bubur kacang ijo.

Bahkan untuk menghemat uang, ia tidur di bus diperjalanan malamnya dari satu kota ke kota lainnya. Sudah pasti ia tidak pakai laptop, ia mengetik menggunakan mesin ketik! Hingga pernah suara berisik mesin ketiknya membuat tetangga kamarnya protes.

Tik … tik … tik ….

“Berisik, pergi kamu dari sini!” protes mereka.

Caldwell pun pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk merampungkan naskahnya.

Seperti penulis pemula lainnya, tulisannya pun sempat ditolak-tolak penerbit. Namun, Caldwell terus mengetik. Begini tulisnya, “Seorang penulis harus meluangkan banyak waktu bagi pekerjaannya dan menjaganya dengan antusias, sebab jika tidak, ia akan mendapati sebagian besar hari-harinya telah dihabiskan untuk tindakan-tindakan yang menyenangkan namun sia-sia.” Karyanya yang paling terkenal yakni Tobbaco Road, Journeyman, Tragic Groun, dan lainnya. Itu fiksi berbasis kondisi sosial, kehidupan orang-orang miskin di Amerika. Coba saja searching di Google.

Alhasil, dari menulis semua bisa terbeli. Caldwell mampu membayar utang-utangnya, membeli rumah dengan taman yang luas (sejuk dan nyaman untuk mengetik), mobil terbaru, dan berinvestasi. Namun baginya, kepuasan yang hakiki tetap saja didapatnya ketika karyanya terbit. Sungguh beruntung saya mendapatkan bukunya. Saya pun mengiyakan, bahwa ‘menulis adalah jalan hidupku’. Bagaimana dengan kita?

Oleh: Dwi Suwiknyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts