Tiga Tingkatan Naskah

0 Comments

Buat kalian yang suka menulis naskah buku, semoga info ini bermanfaat. Saya tidak bicara teori, ini hasil pengalaman saya dan beberapa rekan redaksi penerbit. Kami sering mengobrol, dan obrolan tentang naskah selalu menjadi topik yang menarik. Sebab, bagi redaksi penerbit, sebuah naskah adalah modal dasar yang sangat berharga dalam menjalankan roda bisnis penerbitan.

Ada puluhan naskah yang masuk ke redaksi setiap bulannya, bahkan untuk novel (fiksi) sampai ada ratusan! Langsung saja saya sampaikan, pastinya semua naskah itu ditulis oleh penulis yang benar-benar sudah paham soal menulis (positive thinking, nih). Sehingga saat seleksi itu, ada patokan yang digunakan, yaitu:

Pertama, naskah layak baca. Itu artinya ketika kali pertama baca naskah di paragraf pembuka (baik melalui sinopsis, daftar isi, prolog, bab awal), kudu menarik dan enak dibaca. Terutama soal gaya bahasa. Sebab begini, rata-rata orang yang kerja di redaksi itu, kan, memang suka membaca dan menulis. Jadi, sudah paham tulisan yang enak dibaca itu seperti apa. Pada tahap awal ini, dengan cara baca sekilas saja sudah bisa dinilai. Bila ditolak, masalah umumnya biasanya susunan kalimat yang bertele-tele, kalimat klise, banyak mengulang, kalimat terlalu panjang, tidak efektif, dan ingat ya meski ide bagus, tapi kalau cara penyampaian tidak enak pasti bikin mual juga.

Penulis sering-seringlah latihan menulis (posting di blog misalnya), perbanyak membaca buku bestseller, bergabung komunitas penulis agar naskah kamu dibedah bersama—misalnya untuk penulis fiksi bisa ikut grup menulis kami di Facebook, search #NgajiFiksi. Selalu berlatih agar tulisan enak dibaca, ringan tetapi tetap berbobot dan fresh. Akan banyak manfaat saat tulisan kita dibaca, dikritik dan diberi saran oleh orang lain. Setidaknya kita mengukur kemajuan kualitas tulisan kita.

Oh ya, meski redaksi punya editor, alangkah cerdasnya bila naskah penulis tidak merepotkan editor lagi. Itu sebabnya dulu saya sempat posting tulisan: Jangan sampai editor mengubah tulisan kita. Itu artinya, kalau tulisan kita sudah bagus, kenapa editor harus capek-capek mengubahnya, kan?

Kedua, naskah layak terbit. Hasil seleksi pertama tadi—naskah yang enak dibaca—lalu disaring lagi mana saja yang potensi bisa diterbitkan. Di sini redaksi membuat daftarnya, terutama soal kelebihan dan kekurangan antar naskah, memeriksa profil penulis, menyesuaikan materi tulisan dengan visi dan misi penerbit, naskah tidak cacat hukum (soal hak ciptanya, keaslian karya), menimbang keunggulan konten naskah dari buku-buku kompetitor yang sudah terbit, mengecek kelengkapan naskah, maka naskah yang memiliki nilai tertinggi tentu yang akan dipilih redaksi.   

Di sinilah pentingnya menyerahkan naskah kita ke penerbit yang tepat. Kalau naskah kita bagus dan dikirim ke penerbit yang cocok, pasti bernasib baik. Sebab ditolaknya naskah juga karena penulis tidak paham soal karakter penerbit. Maka bacalah katalog penerbit yang kita tuju, pelajari buku apa saja yang diterbitkan mereka, lalu berikan naskah yang belum mereka miliki dan cocok dengan corak (branding) penerbit itu. Ada baiknya juga supaya penulis gaul (mudah berteman), punya akun di jejaring sosial, punya blog agar redaksi bisa membaca tulisan apa saja yang di-posting, pokoknya penulis benar-benar mudah dihubungi dan bisa enak diajak kerja sama. 

Ketiga, naskah layak jual. Daftar naskah yang telah lolos tahap kedua itu, lalu didiskusikan kepada manajer marketing. Dari daftar itulah akan diberikan saran dari marketing tentang mana saja yang dinilai dapat dijual atau naskah yang memiliki nilai jual tinggi. Penilaian ini bisa berdasarkan data penjualan nasional sebagai pembanding, tema-tema buku apa saja yang sedang laris, buku apa saja yang laris terjual di penerbit tersebut, dan kapan waktu yang tepat untuk menerbitkan buku itu.

Jadi sebab itu ada buku sudah dibayar dan di-acc redaksi namun belum terbit. Sebab menunggu waktu yang tepat. Dan ditahap ini pula, harga buku sudah bisa mulai dirancang, termasuk ukuran buku, dan gambaran awal seputar desain cover dan layout isinya. Maka dibuatlah spesifikasi buku dan daftar (jadwal) terbitnya.

Untuk itu juga saya pernah posting bahwa penulis kudu sering-sering main ke toko buku agar tahu pergerakan buku. Setidaknya tahu buku apa saja yang sedang bestseller, buku apa saja yang ada di pasaran, sehingga saat membuat naskah penulis tidak terjebak pengulangan. Justru dengan rajin ke toko buku, penulis seharusnya bisa membuat konsep buku yang berbeda dari buku-buku yang sudah ada, atau setidaknya naskah bukunya bakal memiliki nilai tambah. Maka penulis akan terdorong untuk lebih kreatif dan inovatif. Nah, sekarang kamu sedang menggarap naskah apa?

Oleh: Dwi Suwiknyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts