Tiga Tingkatan Penulis

0 Comments

Aha! Menurut pengalaman dan pantauan saya selama ini, paling tidak ada 3 tingkatan penulis. Tingkatan ini tidak serta merta menjadi penggolongan status sosial lho, tapi sekadar untuk memudahkan kita menilai diri sendiri, “Sudah di tingkat manakah aku?”

Tingkat full hobby writer, diduduki oleh mereka yang suka menulis untuk tujuan pribadi, seperti menulis di buku diary, untuk dibaca sendiri. Ya karena sifatnya pribadi, jadi penilaian bagus tidaknya hasil tulisannya itu berdasarkan penilaian sendiri. Suka bilang, “Asyik, tulisanku bagus, ya.” Atau juga, “Hee, jelek banget tulisanku.” Mutlak, diri sendiri yang menilai.

Pada tingkatan ini, menulis bisa dibilang aktivitas ‘suka-suka gue’, ‘nggak peduli ah apa kata orang!’ dan ‘pokoknya, aku nulis aja’. Iya itu, karena menulis jadi kesukaan. Tapi ya tanpa berpikir untuk dipublikasikan secara komersial. Jadinya, menulis yang udah keluar biaya dan makan waktu ini ‘tak berpenghasilan’. But, it’s ok!

Lalu, ada tingkatan hobbynomic writer. He, bisa ditebak, kan? Ini tingkatan buat kamu para penulis yang suka menulis dan berani publikasikan tulisannya kepada orang lain. Hasilnya, penilaian tulisan tidak hanya datang dari penulisnya sendiri, tapi juga dari orang lain. Terlebih, bila disebut hobbynomic, itu saya maksud sebagai kegemaran yang menghasilkan uang, lho. Hanya saja, uang yang dihasilkan tidak bisa terus-menerus ada.

So, penulis pada tingkatan ini lebih suka mengikuti berbagai lomba, dan mengirimkan karyanya ke berbagai media seperti koran atau majalah. Iya, kan, karena namanya lomba ya kadang-kadang menang, juga potensi kalah. Juga tak selalu diterima media itu, kan. Tapi, bagusnya hobbynomic writer ini, sangat mungkin mendapat penghargaan atau sebuah ‘prestasi’. Good luck, ya!

Terakhir, ini dia para writerpreneur. Di tingkat ini menulis tidak lagi sekadar hobi dan prestasi, tapi sudah menjadi profesi! Ups, tapi tunggu sebentar, kamu jangan terburu-buru menyebut diri kamu ada di posisi ini, kecuali kamu sudah totalitas (kaffah) menekuni dunia tulis-menulis. Bener-bener berani mengambil aktivitas menulis sebagai pengisi waktumu, bahkan hidupmu!

Tidak hanya itu, ciri khas writerpreneur, telah mendapat pengakuan dari ‘industri publikasi’, semisal penerbit. So, penulis yang sudah ada di tingkatan ini telah memiliki ‘gaji’ dari aktivitasnya menulis. Tidak sekadar itu, penulis tidak menyodorkan tulisannya duluan, lho, justru pihak publisher yang memesan tulisannya! Wow, tak heran kalo penulis ini sudah ‘diakui’!

Oleh: Dwi Suwiknyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts