0 Comments

Mempunyai lingkungan yang nyaman untuk belajar, bertetangga, hingga bekerja merupakan hak setiap orang. Sayangnya, hak tersebut masih sering dilanggar oleh orang lain. Salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah melalui fenomena perundungan atau bullying.

Bullying bisa terjadi di mana saja. Baik di sekolah, lingkungan kerja, hingga di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, korbannya pun beragam. Dari anak sekolah hingga karyawan di suatu perusahaan.

Di buku Bahagia Tanpa Bullying, para penulis menjelaskan secara lengkap masalah bullying ini. Mulai dari definisi para ahli, syarat suatu tindakan disebut bullying, hingga upaya dalam mengatasi bullying.

Hanisah Yufida Awaludin pada halaman 41 menjelaskan bahwa kasus bullying masih sering diabaikan oleh orang dewasa seperti orang tua dan guru karena dianggap hanya bercanda. Padahal, menurutnya, suatu hal yang disebut bercanda seharusnya bisa menyenangkan bagi kedua belah pihak. Nah, dari kebanyakan bullying, hanya pelaku yang menganggap tindakannya sebagai candaan.

Lebih lengkap, kita dapat membedakan bullying dengan tindakan biasa melalui empat syarat yang disebutkan oleh Futri Zakiyah pada halaman 64. Pertama, bullying melibatkan tindakan agresif meliputi kekerasan fisik, verbal, sosial, dan psikis. Medianya pun bisa dibagi menjadi dua, yaitu secara langsung maupun maya seperti melalui internet dan media sosial.

Kedua, antara dua orang atau lebih yang terlibat memiliki kekuatan yang tidak seimbang. Baik kekuatan materi, sosial, hingga psikis. Hal ini menyebabkan tindakan yang menurut pelaku hanya sebagai bercanda, akan berdampak negatif bagi korban.

Ketiga, pengulangan. Jika pelaku melakukan suatu tindakan menyakiti perasaan atau fisik orang lain secara berulang, maka dapat disebut sebagai tindakan bullying. Pelaku tidak dapat berdalih bahwa tindakan tersebut sebagai ketidaksengajaan karena sudah dilakukan beberapa kali.

Keempat, kepuasan bagi pelaku. Jika suatu tindakan menyakiti orang lain tersebut menyebabkan rasa puas bagi pelaku, maka dapat menjadi tanda perilaku bullying. Pelaku rela menyakiti orang lain demi kepuasan diri sendiri.

Tentunya, sebagai orang dewasa, kita juga perlu memahami bahwa tindakan bullying tidak terjadi karena faktor tunggal. Namun, terjadinya bullying disebabkan oleh banyak faktor. Hal tersebut disebutkan oleh Vanya Alea Rianti Putri pada halaman 117.

Bullying terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor keluarga, faktor teman sebaya, dan faktor sekolah.”

Oleh karena itu, dalam mencegah dan mengatasi tindakan bullying, misalnya pada anak usia sekolah, tidak cukup hanya mengandalkan peran guru di sekolah. Pasalnya, tindakan bullying bisa juga bermula dari pola asuh dan komunikasi di keluarga. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu bersinergi untuk mencegah tindakan bullying.

Bagi guru di sekolah, perlu melakukan pencegahan dengan sosialiasi dan edukasi tentang bullying. Pasalnya, khusus anak-anak, mereka sering kali tidak menyadari bahwa hal yang dilakukan adalah tindakan bullying.

Lalu, seperti yang ditekankan oleh Hindun Susilawati pada halaman 71, guru juga tidak diperkenankan untuk melabeli siswa tertentu sebagai pem-bully. Tujuannya agar anak tersebut tidak mengonfirmasi dalam alam bawah sadarnya dan terus melakukan tindak bullying.

Selanjutnya, bagi orang tua di rumah, perlu membangun kedekatan dengan anak dan tidak melakukan tindakan yang mengarah pada kekerasan verbal, fisik, sosial, hingga psikis.

Misalnya, orang tua bisa mulai mengajak anak ngobrol hal-hal ringan. Dengan begitu, anak bisa lebih terbuka untuk hal-hal lebih serius. Misalnya, jika ada permasalahan di sekolah, tindakan bullying dapat diketahui lebih awal sehingga meminimalkan terjadinya dampak buruk yang lebih besar.

Pada dasarnya, dalam menciptakan lingkungan yang bahagia tanpa bullying, perlu kerja sama dari berbagai pihak. Mulai dari orang tua di rumah hingga guru di sekolah. Para siswa juga perlu dibekali pemahaman khusus agar tidak bercanda berlebihan sehingga mengarah pada bullying.

Selain itu, guru dan orang tua pun perlu melatih kecerdasan emosional dan spiritual agar dapat menjadi teladan bagi anak-anak. Untuk panduan lebih lengkapnya, silakan baca buku Bahagia Tanpa Bullying ini.

[] Oleh: David Aji Pangestu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts